Kaitan Agama & Masyarakat
Kaitan Agama & Masyarakat dapat dibuktikan dengan
adanya pengetahuan agama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, figur Nabi, pemahaman
religi yang memperkuat adanya Tuhan Yang Maha Esa.Bila dikaitkan dengan
pendidikan islam, sebenarnya manusia sudah memiliki naluri untuk hidup bersama
sejak lahir. Untuk itu, manusia disebut sebagai makhluk homo sosius.
Sekurang-kurangnya ada keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alam dan
sekitarnya. Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua
lingkungan itu, manusia harus menggunakan fikiran, perasaan dan kemauannya,
serta harus senantiasa hidup dengan sesamanya. Untuk itu, manusia dituntut
untuk dapat menyempurnakan dan memperluas sikap, tindak tanduknya, agar
tercapai kedamaian dengan lingkungannya. Secara rinci, fungsi agama dalam
kehidupan bermasyarakat adalah untuk memperbaiki (islah). Antara lain
fungsi-fungsi adalah:
1. Berfungsi
edukatif
Para
penganut agama mengemukakan bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan
ajaran-ajaran yang harus dipatuhi, karena secara yuridis ajaran agama itu
berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur itu memiliki latar belakang dalam
pengarahan bimbingan agar para penganutnya memiliki kepribadian yang baik dan
terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing-masing.
Dalam
agama islam, salah satu tugas Rasulullah selama da’wah adalah untuk memperbaiki
akhlak umatnya. Maka, dalam masalah adab, akhlak, kita akan menemukan banyak
riwayat hadits yang menyuruh kita untuk melakukan suatu perbuatan baik, atau
untuk tidak melakukan suatu perbuatan keji. Salah satu contohnya adalah hadits
yang berisi larangan untuk marah.
2. Sebagai
Penyelamat
Di mana pun manusia
berada, dia pasti selalu menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang
meliputi bidang luas adalah keselamatan yang diajarkan oleh agama, baik
keselamatan dunia maupun akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu, agama
mengajarkan kepada penganutnya melalui pengenalan kepada masalah sakral berupa
keimanan pada tuhan. Pengenalan tersebut berujuan agar dapat berkomunikasi baik
secara langsung maupun melalui perantara menuju ke arah itu, dengan berbagai
cara sesuai dengan ajaran agama itu sendiri.
3. Sebagai
pendamaian
Seseorang yang
bersalah atau berdosa dapat mencapai ketenangan batin melalui tuntunan agama.
Rasa berdosa dan rasa bersalah akan hilang dari batinnya, bila seorang
pelanggar itu sudah menebus dosanya dengan bertaubat, pensucian atau dengan
penebusan dosa.
Sebagai contoh, apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan zina, sedang dia sudah menikah, maka dia akan dikenai had berupa rajam.
Sebagai contoh, apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan zina, sedang dia sudah menikah, maka dia akan dikenai had berupa rajam.
4. Sebagai sosial
control.
Para penganut agama
sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya akan terikat batin dengan tutunan
ajaran itu, baik secara pribadi maupun kelompok. Hal ini karena ajaran agama
dianggap sebagai norma oleh para pengikutnya, sehingga secara tidak langsung,
ajaran agama juga bisa menjadi pengawas bagi para penganutnya, baik secara
individu maupun kelompok.
5. Sebagai pemupuk
rasa solidaritas.
Secara psikologis,
para penganut agama yang sama akan memiliki kesamaan dan kesatuan iman dan
kepercayaan. Rasa kesatuan itu akan membina rasa solidaritas dalam kelompok
maupun perorangan, bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang
kokoh. Bahkan balam beberapa agama, rasa persaudaraan itu bahkan dapat
mengalahkan rasa kebangsaan.
6. Sebagai
transformative.
Ajaran agama dapat
mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi sebuah kehidupan
baru sesuai dengan tutunan ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan barunya itu
kadangkala mampu mengubah kesetiannya pada adat atau norma kehidupan yang
dianutnya sebelum itu.
5.Sebagai
kreatifitas.
Ajaran agama mendorong
dan mengajak para penganutnya agar bekerja dengan produktif, bukan semata-mata
karena untuk kepentingan pribadi, namun juga untuk kepentingan orang lain.
Penganut agama tidak hanya diperintahkan untuk bekerja secara rutin dalam pola
hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan inovasi dan penemuan
baru.
Sebagai Sublimatif
Ajaran agama
mengkuduskan segala usaha manusia, baik secara duniawi paupun ukhrawi.
Selama usaha yang dijalankan seseorang itu tidak bertentangan dengan
norma-norma agama, dilakukan dengan niat tulus, karena dan untuk Allah, maka
itu merupakan bagian dari ibadah.
Menurut saya untuk menjaga harmonisasi antar umat
beragama di Indonesia adalah toleransi beragama. Karena dengan toleransi
beragama kita menciptakan kerukunan umat
beragama baik dari lingkungan maupun secara luas. Toleransi
beraga bisa dlikaukan dengan cara tanggung
jawab mengenai ketentraman,
keamanan, dan ketertiban termasuk
memfasilitasiterwujudnya kerukunan umat beragama, menumbuh kembangkan
keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama bahkan menertibkan
rumah ibadah. Dan
disinilah Pemerintah harus menjadi peran utama, untuk menyatukan perbedaan.
Penerapan nilai-nilai, norma-norma keagamaan agar
mampu mendorong pola fikir manusia (masyarakat) agar terhindar dari perbuatan
tercela seperti melakukan tindak korupsi, menyakiti sesama misalnya dengan
menyebar fitnah, minum yang beralkohol atau narkoba yaitu dengan adanya norma
agama. Norma agama mampu mendorong pola fikir manusia dengan cara menghidupkan
kembali agama itu sendiri. Caranya dengan dibentuknya pengajian bulanan atau
bahkan mingguan. Dengan begitu tempat ibadah seperti mushola yang
berfungsi untuk sholat berjamaah 5 waktu, berfungsi juga untuk berinteraksi dan
saling silaturrahim. Kita juga bisa bersedekah setelah selesai sholat yang
berarti dia menghidupkan lingkungannya membantu sesamanya. Dengan adanya
organisasi di dalam lingkungan yang di koordinasikan oleh orang tua dan remaja
di sekitar untuk mebuat kegiatan yang dapat membangkitkan semangat beragama
seperti membuat acara Maulid Nabi, Isra Mi'raj, Tahun baru islam. Kalau agama
hidup secara otomatis setiap orang akan menerapkan nilai - nilai dan norma -
norma keagamaan. Sebaliknya, orang yang berusaha menerapkan nilai dan norma
agama tanpa adanya "kehidupan beragama" akan hancurlah kehidupannya.
Agama dapat menyatukan visi misi mempertahankan
persatuan dan kesatuan bangsa, karena agama itu mengatur seluruh sistem dalam
kehidupan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada orang yg berpikir berbeda
dalam artian agama itu tidak ngatur seluruh kehidupan, seperti agama tidak ada
urusannya tentang politik dll. Dalam islam sendiri udah dijelaskan kan dalam
hadis nabi, yaitu "Cinta tanah air bagian dari iman." jadi dari hadis
itu ga ada alasan dalam islam untuk tidak mempertahankan persatuan dan kesatuan
negaranya.

Artikel yang bagus, jangan lupa untuk kasih link ke web2 gunadarma
BalasHapusTrims,
Reza Chandra